Belajar dari Sahabat Amr bin Ash ra dalam menghadapi Covid-19

Belajar dari Sahabat Amr bin Ash ra dalam menghadapi Covid-19

Oleh: Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, M.Pd.I.
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram

MD ( 18/04/2020 ) – Keniscayaan bagi orang yang beriman kepada Allah SWT senantiasa bertafakkur terhadap segala yang terjadi dihadapannya. Begitulah anjuran dalam hadits, “tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fi dzatillah” (hendaknya memikirkan ciptaan Allah bukan memikirkan dzat Allah). Melaksanakan perintah dalam hadis adalah ibadah, maka memperhatikanlah segala makhluk Allah tanpa membedakan dan menyepelekan makhluk itu besar atau kecil karena dalam ciptaan-Nya tersebut terdapat kebesaran Allah di dalamnya.

Covid-19 pun ciptaan Allah SWT yaitu makhluk Allah paling kecil yang disebut dalam Alquran dalam Alquran surat Albaqarah ayat 26 sebagai Fauqa Ba’ūdhah (virus, kuman, bakteri). Coronavirus Covid-19 merupakan virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, provinsi Hubei, RRC. pada Desember 2019. Awalnya diduga berasal dari hewan kelelawar sebagai inangnya yang berpindah pada manusia pemakan kelelawar. Covid-19 dapat menular pada manusia, dan bisa berpindah kepada orang lain melalui tangan dan jemari manusia yang menjadi alat transportasi virus masuk ke tubuh manusia. Dan karena kemajuan teknologi transportasi dalam tempo singkat virus ini menyebar keseluruhan dunia. Sampai akhirnya WHO pada tanggal 12 Maret 2020 telah menyatakan sebaran virus covid-19 sebagai pandemi. Dan hari ini (18/4/2020) sebanyak 2.182.823 orang terinfeksi Covid-19, 145.551 (6,67 %) orang meninggal dunia dan pasien yang  telah sembuh sebanyak 547.679 (25, 10%) orang.

Fakta data tersebut menjadi bahan tafakkur kita sebagai kaum Muslimin terlebih pandemi (wabah penyakit) seperti Covid-19 bukanlah yang pertama kali terjadi, namun di zaman Rasulullah, zaman Sahabat, bahkan di zaman sebelum Nabi Muhammad Saw pun pernah terjadi pandemik sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits. Melalui sejarah tersebut kita dapat mentadaburinya secara kontekstual secara kekinian dan kedisinian.

Dalam hal ini kita dapat bertafakkur dengan kisah yang pernah terjadi saat zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana pada zaman pemerintahan beliau ini pernah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina. Di dalam buku biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husein Haekal menjelaskan, wabah tersebut menjalar hingga ke Syam (Suriah), bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan memicu kepanikan massal saat itu. Di dalam sebuah hadis yang disampaikan Abdurrahman bin Auf mengenai sabda Nabi SAW: “Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari & Muslim).

Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah Swt yang menyelamatkan Syam. Amr bin Ash berkata: “Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit!”. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas mereda dan hilang sama sekali.

Dari kisah di atas kita dapat belajar dari orang-orang terbaik bersikap, dan juga yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Apa yang dapat kita ambil ibrah atau pembelajarannya adalah:

Pertama, karantina.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, itulah konsep karantina yang hari ini dikenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat.

Kedua, bersabar.
Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah bertanya kepada Nabi SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW bersabda, “Wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah Swt. Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka, ia mendapat balasan seperti mati syahid.”

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah.
Karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya.” (HR. Bukhari). Dalam kisah Umar bin Khattab beriktiar menghindarinya, serta Amr bin Ash beriktiar menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social distancing”, dilansir dari The Atlantic, tindakan yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus. Artinya juga sementara waktu menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia.

Keempat, banyak berdoalah.
Perbanyak doa-doa keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah Saw untuk dilafadzkan di setiap pagi dan sore berikut ini: “Bismillahilladzi laa yadhurru maasmihi, say’un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul’alim.” (Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui). Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Berdasarkan pemahaman Spiritualism dan Rasionalism dapat dikatakan juga, seseorang yang memiliki tingkat spiritual tinggi, maka akan memiliki hormon endorphin yang lebih banyak dibandingkan dengan yang tingkat spiritual rendah. Logikanya secara sederhana bisa kita perhatikan pada orang yang jauh dari Allah Swt, biasanya mudah mengalami stress, pada kondisi stress hormon yang bekerja adalah adrenalin, norepinephrine dan kortisol. Hormon stres akan menyebabkan asam lambung naik, sistem imun turun, sehingga mudah terkena penyakit. Sebaliknya pada oang-orang yang beriman dan tawakal, hormon oxytocin bekerja lebih baik, sehingga akan menghasilkan endorphin yang tinggi yang menimbulkan kedamaian, ketenangan sehingga sistem imun tubuh menjadi lebih kuat.

Dipertegas kembali seorang insinyur bernama Andre Simoneton telah melakukan penelitian dan mendapati bahwa semua Virus bergetar dalam frekuensi rendah dibawah 5.000 angstrom. Hukum semesta mengatakan bhw setiap benda akan menarik benda yg lain yg memiliki getarani frekuensi yg sama. Dr. David Hawkins telah memetakan getaran frekuensi yg dihasilkan oleh manusia (Force and Power). Getaran frekuensi rendah dihasilkan oleh perasaan seperti takut, khawatir, sedih, panik, putus asa dan kejiwaan rendah lainnya. Sedangkan getaran frekuensi tinggi dihasilkan oleh perasaan seperti gembira, sukacita, bersyukur, pencerahan dan tenang. Karena virus bergetar pada frekuensi rendah, maka virus akan mencari inang yg sama dgn frekuensinya. Dalam hal ini rasa panik, takut, kuatir, sedih dan panik. Orang-orang dengan getaran frekuensi ini akan dianggap sbg “rumah” bagi si virus. Sehingga oang-orang yang berhasil sembuh dari Covid-19 adalah mereka yang selalu mengakses rasa damai, tenang, bersyukur dan berbahagia.

Sepandangan dengan Ibnu Sina dalam bukunya yang berjudul Qonun Fi Tib mempunyai tiga nasehat saat menghadapi pandemi wabah penyakit yang mematikan yaitu jangan panik karena panik adalah setengah dari penyakit, berusaha tenang, karena ketenangan adalah separoh dari obat, dan bersabar, karena kesabaran adalah awal dari kesembuhan. Pesan agama pun menginformasikan demikianlah, memerintahkan kita senantiasa senantiasa mengakses rasa di getaran frekuensi tinggi seperti yakin, ikhlas, istiqomah, tawakal, bersyukur, qona’h, tenang, bersukacita, berserah diri kepada Alam dan sifat jiwa mulia lainnya.

Terkait dengan wabah coronavirus covid 19 ini, sebagai seorang mu’min, maka sebaiknya selain melakukan juga ikhtiar karantina atau “social distancing” ini, maka tingkatkan juga spiritual kita. Jika dapat bertafakkur lebih jauh, sebagai muslim semua wabah ini adalah sebuah rahmatNYA, sebuah peringatan bagi yang berpikir, untuk terus menjadikannya sebagai wasilah atau jalan untuk terus banyak mendekatkan diri kepada Allah Swt, sehingga ketika tingkat kepasrahan tinggi maka akan dirasakan ketenangan dan dengan segala usaha dan doa keselamatan juga kepada Allah Swt, dengan selalu melibatkanNYA, dan berharap semua wabah ini akan berakhir, dan dapat pula segera ditemukan penyebabnya, InshaAllah AamiinYRA. Dialah Allah Sang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

Updated: 18 April 2020 — 14:11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *